Wisata Lamalera

Wisata Lamalera

Wisata Lamalera

 

Desa Lamalera yang bersuku Lamaholot dibina di antara bukit batu dan cadas Kabupaten Pulau Lembata yang menganga ke Laut Sawu di hadapannya. Seorang lamafa, juru tikam yang memimpin kawanan matros atau pendayung, siap memberi aba-aba meluncurkan peledang, perahu penangkap paus yang khusus dibuat. Para nelayan dan turis menunggu seseorang menyerukan Baleo! Baleo! Itulah pertanda ikan paus muncul di permukaan di antara bulan-bulan penangkapan, yaitu Mei dan Oktober.

Kebiasaan memburu paus sudah dimulai sejak abad 17 atau mungkin abad 16. Catatan Portugis menyebutkan adanya masyarakat di Lembata yang mencari paus dengan cara tradisional. Di Lamalera ada 15 klan keluarga dengan tradisi ini, lengkap dengan rumah adat, rumah perahu atau najeng, dan tale leo atau tali penangkap paus.

Kebiasaan kotoklema yang digelar hanya antara Mei dan Oktober dikhawatirkan akan sirna oleh gerusan modernisasi dan juga celah yang timbul dari upaya konservasi dan pendekatan adat di sana. Tahun 2009, pemburuan kotoklema dicetuskan menjadi sebuah festival agar tradisi ini dapat bertahan. Festival Baleo akhirnya dikenal dari tahun ke tahun. Tak heran festival ini begitu sangat berharga bagi wisatawan, selain menangkap nyale, cacing laut, melihat pasola yang juga melibatkan lembing, dan terkadang darah. Nusa Tenggara Timur memang kaya akan budaya tereksotis di negeri Indonesia, termasuk tarian yang juga mengundang decak kagum para insan perfilman seperti Tari Caci yang gagah berani.

#Transportasi

Pulau Lembata yang menjadi kabupaten tersendiri terletak 190 km di sebelah utara Kupang, Ibu kota Nusa Tenggara Timur. Kota terbesar di Pulau Lembata ialah Lewoleba di bagian selatan pulau yang merupakan ibu kota Kabupaten Lembata.

Karena terpisah secara geografis, menuju Lewoleba hanya dapat ditempuh melalui udara dengan Bandar Udara Wonopito atau dengan melalui laut. Penerbangan menuju Maumere menjadi penerbangan terakhir sebelum dilanjutkan oleh perjalanan laut di Larantuka. Jadi, Anda harus menuju Larantuka dari Maumere dengan menggunakan bus kota. Dari Larantuka Flores, kapal laut berlayar setiap hari ke Lewoleba atau ada pula yang berlayar langsung ke Lamalera seminggu sekali.

#Kuliner

Temukan kuliner khas jagung titi di Desa Weienga. Sebuah makanan yang dibuat setiap hari oleh penduduknya dengan meniti jagung atau menumbuk butiran jagung menjadi pipih seperti kripik. Sebuah keterampilan yang diperoleh secara turun-temurun menggunakan peralatan yang sangat sederhana berupa periuk tanah kecil untuk menyangrai butiran jagung, batu ceper sebagai landasan untuk meniti, dan batu berbentuk lonjong yang berfungsi sebagai penumbuk (titi).

Bahan jagung titi diambil dari hasil panen masyarakatnya, biasanya yang paling enak berasal dari jagung pulut, sedangkan agar proses menitinya lebih mudah maka digunakan jagung yang tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua. Untuk membuat jagung titi biasanya dilakukan pada subuh sampai menjelang pagi. Proses pembuatan jagung titi dimulai dengan butiran-butiran jagung pipilan disangrai dalam periuk tanah menggunakan kayu bakar yang sedikit saja, agar jagung tidak cepat gosong. Setelahnya akan berwarna kekuningan atau sekitar 3 menit disangrai. Bila periuk tanah tadi terdengar berbunyi "kletek-kletek" maka tandanya jagung sudah siap untuk dititi. 4 butir jagung diambil langsung dari periuk dengan menggunakan tangan tanpa alas, lalu diletakkan di atas batu landasan. Butiran jagung tadi ditumbuk (dititi) menggunakan batu lonjong seberat 2 kg. Diperlukan ketepatan waktu antara meletakkan butiran jagung dan menarik telapak tangan agar tidak terpukul. Dengan sekali titi saja maka sudah jadilah jagung titi.

Jagung titi lebih nikmat disantap ditemani lawar, sejenis pangan dari ikan-ikan kecil mirip ikan teri segar yang direndam beberapa menit di dalam cuka yang ditambahkan cabe dan bawang. Dengan sendirinya ikan-ikan kecil ini akan melunak dan menjadi setengah matang.

Masyarakat Desa Weienga umumnya membuat jagung titi sebagian untuk konsumsi dan sebagian lagi dijual. Untuk keperluan konsumsi, masyarakat meniti jagung bila dianggap persediaan sudah habis, selain itu akan meniti bilamana ada pesanan. Sementara untuk dijual pemasarannya dilakukan sangat sederhana dijual kepada pemesan di sekitar desa atau di pasar lokal setempat. Umumnya penjualannya masih dalam jumlah yang terbatas dimana 3 mangkuk plastik dihargai Rp 10.000.

Datanglah ke Desa Waienga dan cicipi jagung titi untuk mengapresiasi kearifan kuliner lokal ditengah modernisasi makanan siap saji.

#Akomodasi

Anda dapat menginap di Hotel Puri yang terletak di sudut Kota Lewoleba ibu kota Kabupaten Lembata. Meski sederhana tetapi Anda akan mendapatkan suasana tenang tanpa kebisingan. Untuk menuju ke hotel ini apabila tidak ada jemputan maka Anda dapat menggunakan ojek dari Pelabuhan Lewoleba dengan ongkos Rp 5000. Belum ada taxi khusus di kota kecil ini. Umumnya pengertian taxi di daerah ini adalah mobil-mobil minibus yang disewakan. Bus Laut adalah istilah penduduk lokal untuk menyebut perahu motor kayu.

#Tips

Selain Lamalera, Desa Lamakera di Pulau Solor bagian timur pun memiliki tradisi memburu ikan paus dan ikan yang lebih beragam jenisnya. Di Desa Lamalera, mayoritas beragama Kristen walau tradisi adat masih sangat kuat diterapkan. Di Desa Lamakerta, mayoritas penduduknya berdagang dan menganut agama Islam.

Hal yang paling penting perlu diketahui adalah mengetahui jadwal apabila akan langsung ke Pulau Lembata. Untuk mengetahui info ini bisa melalui internet atau kontak langsung ke perwakilan Merpati Air Line atau travel agent terdekat.

 

PESAN / CARI TAKSI
di Surakarta (Solo) & Sekitarnya
Hubungi : KOSTI TAKSI SOLO
Phone : 0271-856300, 0815-6780-7777, 0813-9090-2900
WhatsApp : 0822-6417-9700
Pengaduan : 0271-857858
Info Tarif Kosti Tujuan Luar Kota / Daerah
Info Tarif Khusus penjemputan dari Bandar Udara Internasional Adi Soemarmo Solo-Surakarta

Jika ada pertanyaan tambahan atau anda butuh bantuan lebih lanjut, silahkan hubungi tim teknis kami.

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar